Sebuah renungan untuk saudaraku muslimah...
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Untuk para istri :
Rasul yang mulia bersabda yang artinya :
“Seandainya aku boleh memerintahkan manusia bersujud kepada manusia lain, akan ku perintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami yang dianugerahkan Allah atas mereka”. (HR. Abu Daud, Al Hakim dan At-Turmudzi)
Banyak istri menuntut agar suaminya membahagiakan mereka. Jarang terpikirkan bagaimana ia berusaha membahagiakan suaminya. Cinta dan kasih sayang tumbuh dalam suasana “memberi” bukan “mengambil”. Cinta adalah sharing (saling membagi). Ukhti tidak akan memperoleh cinta kalau yang Ukhti tebarkan adalah kebencian. Ukhti tidak akan memetik kasih sayang kalau yang Ukhti tanamkan adalah kemarahan. Ukhti tidak akan meraih ketenangan bila yang Ukhti suburkan dendam dan kecewaan.
Ukhti boleh memberi apa saja yang Ukhti miliki. Tetapi, buat suami Ukhti, tidak ada pemberian yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap berbagi kesenangan dan penderitaan. Di luar rumah, suami Ukhti boleh diguncangkan dengan berbagai kesulitan. Di luar ia menemukan wajah-wajah tegar, mata-mata tajam, ucapan yang kasar dan pergumulan yang berat. Ia ingin ketika ia pulang ke rumah, di situ ditemukan wajah ceria, mata yang sejuk, ucapan yang lembut, dan berlindung dalam keteduhan kasih saying Ukhti. Seperti cerita putri saljunya Andersen, suami Ukhti ingin mencairkan seluruh beban jiwanya dengan kehangatan air mata yang terbit dari samudera kasih sayang Ukhti.
Rasul yang mulia bersabda, yang artinya :
“Istri yang paling baik ialah yang membahagiakanmu bila kamu memandangnya, yang mematuhimu bila kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan hartanya bila kamu tidak ada”. (HR. Thabrani)
Rasul yang mulia bersabda, “Surga terletak di bawah telapak kaki ibu”.
Apakah rumah tangga yang anda bangun hari ini akan menjadi surga atau neraka, bergantung kepada Ukhti sebagai ibu rumah tangga. Rumah tangga akan menjadi surga bila disitu Ukhti hiaskan kesabaran, kesetiaan, dan kesucian.
Allah SWT berfirman, yang artinya :
“Wahai kaum wanita, ingatlah ayat-ayat Allah dan Al-Hikmah yang dibacakan di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang dan Maha Mengetahui”. (QS. 33:34)
Ukhti, kelak bila perahu rumah tangga Ukhti bertubrukan dengan kerikil tajam, bila impian remaja telah berganti dengan kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit harapan diguncang gempa cobaan, kami ingin melihat Ukhti tetap teguh disamping suami. Ukhti tetap tersenyum walaupun langit makin mendung. Pada saat itu, mungkin tidak ada yang paling menyejukkan suami Ukhti selain melihat pemandangan yang mengharukan. Ia bangun dimalam hari, didapatinya Ukhti tidak ada disampingnya. Tetapi, kemudian ia mendengar suara yang dikenalnya betul. Di atas sajadah atau di atas lantai yang dingin, ia menyaksikan seorang wanita bersujud. Suaranya bergetar. Ia sedang memohon agar Allah SWT menganugerahkan pertolongan bagi suaminya. Pada saat seperti itu, suami Ukhti akan mengangkat tangan ke arah langit dan bersamaan dengan itu pula menetes air matanya seraya berdoa : “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami istri dan keturunan yang menenteramkan hati kami, dan jadikanlah kami penghulu orang-orang yang bertakwa”.
Pernah Aisyah bercerita setelah Khadijah meninggal dunia :
“Hampir setiap saat Rasulullah akan keluar rumah, beliau menyebut Khadijah seraya memujinya. Sehingga pada suatu hari, ketika beliau menyebutnya lagi, timbul rasa cemburuku, dan kukatakan padanya : “Bukankah ia seorang wanita yang sudah tua, sedangkan Allah telah memberi pengganti yang lebih baik daripada dia ?”. Mendengar itu Rasulullah terlihat sangat marah, maka beliau berkata : “Tidak, demi Allah ! Aku tidak mendapat pengganti yang lebih baik dari dia…! Dia beriman kepadaku ketika orang lain masih dalam kekafiran. Dia menaruh kepercayaan kepadaku ketika orang lain mendustaiku. Dia membantuku dengan harta, ketika tidak seorang pun selain dia bersedia memberiku. Dan Allah telah menganugrahkan keturunanku daripadanya, dan tidak dari istri-istri yang lain”. (Al Hadits)
Ukhti, andaikan Allah mentakdirkan Ukhti meninggal lebih dahulu, lalu kami menemui suami Ukhti dan kami tawarkan pengganti Ukhti. Pada saat itu, suami Ukhti akan bergetar marah, dan seperti Rasul yang mulia katakan : “Demi Allah, tidak ada yang dapat menggantikan dia. Dia yang memperkuat hatiku, ketika aku hampir putus asa. Dia mempercayaiku, ketika orang lain menjauhiku. Dia memberikan ketulusan hati, ketika orang-orang mengkhianatiku”. Bila itu yang terjadi, berbahagialah anda…
Ukhti, karena sabda Rasulullah yang artinya :
“Bila seorang wanita meninggal dunia, sedangkan suaminya ridho dengan tingkah lakunya ketika ia masih hidup, maka wanita itu masuk surga”.
Wallahu’alam bishowab
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh


