<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-17390621</id><updated>2011-04-21T12:53:51.731-07:00</updated><title type='text'>Points to ponder</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17390621/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Armansyah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17390621.post-112832032932375897</id><published>2005-10-02T23:18:00.000-07:00</published><updated>2005-10-03T20:41:59.800-07:00</updated><title type='text'>Sebuah renungan untuk saudaraku muslimah...</title><content type='html'>Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para istri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul yang mulia bersabda yang artinya :&lt;br /&gt;“Seandainya aku boleh memerintahkan manusia bersujud kepada manusia lain, akan ku perintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami yang dianugerahkan Allah atas mereka”. (HR. Abu Daud, Al Hakim dan At-Turmudzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak istri menuntut agar suaminya membahagiakan mereka. Jarang terpikirkan bagaimana ia berusaha membahagiakan suaminya. Cinta dan kasih sayang tumbuh dalam suasana “memberi” bukan “mengambil”. Cinta adalah sharing (saling membagi). Ukhti tidak akan memperoleh cinta kalau yang Ukhti tebarkan adalah kebencian. Ukhti tidak akan memetik kasih sayang kalau yang Ukhti tanamkan adalah kemarahan. Ukhti tidak akan meraih ketenangan bila yang Ukhti suburkan dendam dan kecewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti boleh memberi apa saja yang Ukhti miliki. Tetapi, buat suami Ukhti, tidak ada pemberian yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap berbagi kesenangan dan penderitaan. Di luar rumah, suami Ukhti boleh diguncangkan dengan berbagai kesulitan. Di luar ia menemukan wajah-wajah tegar, mata-mata tajam, ucapan yang kasar dan pergumulan yang berat. Ia ingin ketika ia pulang ke rumah, di situ ditemukan wajah ceria, mata yang sejuk, ucapan yang lembut, dan berlindung dalam keteduhan kasih saying Ukhti. Seperti cerita putri saljunya Andersen, suami Ukhti ingin mencairkan seluruh beban jiwanya dengan kehangatan air mata yang terbit dari samudera kasih sayang Ukhti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul yang mulia bersabda, yang artinya :&lt;br /&gt;“Istri yang paling baik ialah yang membahagiakanmu bila kamu memandangnya, yang mematuhimu bila kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan hartanya bila kamu tidak ada”. (HR. Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul yang mulia bersabda, “Surga terletak di bawah telapak kaki ibu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah rumah tangga yang anda bangun hari ini akan menjadi surga atau neraka, bergantung kepada Ukhti sebagai ibu rumah tangga. Rumah tangga akan menjadi surga bila disitu Ukhti hiaskan kesabaran, kesetiaan, dan kesucian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, yang artinya :&lt;br /&gt;“Wahai kaum wanita, ingatlah ayat-ayat Allah dan Al-Hikmah yang dibacakan di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang dan Maha Mengetahui”. (QS. 33:34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti, kelak bila perahu rumah tangga Ukhti bertubrukan dengan kerikil tajam, bila impian remaja telah berganti dengan kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit harapan diguncang  gempa cobaan, kami ingin melihat Ukhti tetap teguh disamping suami. Ukhti tetap tersenyum walaupun langit makin mendung. Pada saat itu, mungkin tidak ada yang paling menyejukkan suami Ukhti selain melihat pemandangan yang mengharukan. Ia bangun dimalam hari, didapatinya Ukhti tidak ada disampingnya. Tetapi, kemudian ia mendengar suara yang dikenalnya betul. Di atas sajadah atau di atas lantai yang dingin, ia menyaksikan seorang wanita bersujud. Suaranya bergetar. Ia sedang memohon agar Allah SWT menganugerahkan pertolongan bagi suaminya. Pada saat seperti itu, suami Ukhti akan mengangkat tangan ke arah langit dan bersamaan dengan itu pula menetes air matanya seraya berdoa : “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami istri dan keturunan yang menenteramkan hati kami, dan jadikanlah kami penghulu orang-orang yang bertakwa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah Aisyah bercerita setelah Khadijah meninggal dunia :&lt;br /&gt;“Hampir setiap saat Rasulullah akan keluar rumah, beliau menyebut Khadijah seraya memujinya. Sehingga pada suatu hari, ketika beliau menyebutnya lagi, timbul rasa cemburuku, dan kukatakan padanya : “Bukankah ia seorang wanita yang sudah tua, sedangkan Allah telah memberi pengganti yang lebih baik daripada dia ?”. Mendengar itu Rasulullah terlihat sangat marah, maka beliau berkata : “Tidak, demi Allah ! Aku tidak mendapat pengganti yang lebih baik dari dia…! Dia beriman kepadaku ketika orang lain masih dalam kekafiran. Dia menaruh kepercayaan kepadaku ketika orang lain mendustaiku. Dia membantuku dengan harta, ketika tidak seorang pun selain dia bersedia memberiku. Dan Allah telah menganugrahkan keturunanku daripadanya, dan tidak dari istri-istri yang lain”. (Al Hadits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti, andaikan Allah mentakdirkan Ukhti meninggal lebih dahulu, lalu kami menemui suami Ukhti dan kami tawarkan pengganti Ukhti. Pada saat itu, suami Ukhti akan bergetar marah, dan seperti Rasul yang mulia katakan : “Demi Allah, tidak ada yang dapat menggantikan dia. Dia yang memperkuat hatiku, ketika aku hampir putus asa. Dia mempercayaiku, ketika orang lain menjauhiku. Dia memberikan ketulusan hati, ketika orang-orang mengkhianatiku”. Bila itu yang terjadi, berbahagialah anda…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti, karena sabda Rasulullah yang artinya :&lt;br /&gt;“Bila seorang wanita meninggal dunia, sedangkan suaminya ridho dengan tingkah lakunya ketika ia masih hidup, maka wanita itu masuk surga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu’alam bishowab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17390621-112832032932375897?l=asalim-ponder.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/feeds/112832032932375897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17390621&amp;postID=112832032932375897' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17390621/posts/default/112832032932375897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17390621/posts/default/112832032932375897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/2005/10/sebuah-renungan-untuk-saudaraku.html' title='Sebuah renungan untuk saudaraku muslimah...'/><author><name>Armansyah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17390621.post-112832011094739884</id><published>2005-10-02T23:14:00.000-07:00</published><updated>2005-10-03T20:43:48.280-07:00</updated><title type='text'>Sebuah renungan untuk saudaraku muslimin...</title><content type='html'>Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para suami :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pernikahan bukanlah peristiwa kecil dihadapan Allah SWT. Akad nikah yang baru saja anda laksanakan berdua sama tingginya dengan perjanjian Bani Israil di bawah Bukit Thur yang bergantung di atas kepala mereka. Peristiwa akad nikah tidak saja disaksikan oleh orang tua, saudara-saudara, dan sahabat-sahabat anda, tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi, dan terutama sekali oleh Allah penguasa alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Akhi sia-siakan perjanjian ini, bila Akhi putuskan janji yang sudah terpatri, Akhi bukan saja harus mempertanggungjawabkan kepada mereka yang hadir saat ini. Akhi juga harus bertanggung jawab dihadapan Allah Rabbul ‘Alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda yang artinya :&lt;br /&gt;“Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Rasulullah mengukur baik buruknya seseorang dari cara ia memperlakukan keluarganya.&lt;br /&gt;“Yang paling baik diantara kamu ialah yang paling baik dan paling lembut terhadap keluarganya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Allah dan Rasul-Nya mewasiatkan agar kita memelihara akad nikah yang suci ini ? Mengapa kebaikan manusia diukur dari cara dia memperlakukan keluarganya ? Mengapa suami dan istri harus mempertanggungjawabkan peran yang dilaksanakan oleh mereka dihadapan Allah SWT ? Jawabannya sederhana, karena Allah mengetahui bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia sangat bergantung pada hubungan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai, yaitu keluarganya. Kata Marie von Ebner Eschenbach, “Bila di dunia ini ada surga, surga itu ialah pernikahan yang bahagia. Tetapi bila di dunia itu ada neraka, neraka itu ialah pernikahan yang gagal”. Para psikolog menyebut persoalan rumah tangga sebagai penyebab stress yang paling besar dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, Islam dengan penuh perhatian mengatur urusan rumah tangga. Sebuah ayat pernah diturunkan dari langit hanya untuk mengatur urusan pernikahan antara Zainab dan Zaid bin Haritsah. Sebuah surat turun untuk mengatur urusan rumah tangga seluruh muslimin. Ribuan tahun silam, di Padang Arafah, dihadapan ratusan ribu umat Islam yang pertama, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah perpisahan. Perhatikanlah salah satu hal yang beliau wasiatkan pada hari itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai manusia, takutlah kepada Allah SWT akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah. Kami halalhan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atas kamu. Ketahuilah, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya, dan kamu tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya terhadap mereka”. (HR. Muslim dan Turmudzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkanlah saya (sebagai saudaramu) menyampaikan amanat kepada anda yang kini memikul wasiat Rasulullah pada haji Wada’ (perpisahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, dihari yang berbahagia ini, dengan nikmat dan ‘inayah Allah SWT, Akhi sampai pada saat yang paling indah, paling bahagia, tetapi juga paling mendebarkan dalam kehidupan anda. Saat paling indah, sebab mulai hari ini cinta tidak lagi berbentuk impian dan khayalan. Saat paling bahagia, sebab akhirnya Akhi berhasil mendampingi wanita yang dicintai. Saat paling mendebarkan, sebab mulai saat ini Akhi memikul amanat Allah untuk menjadi pemimpin keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pada saat ini dada Akhi berguncang dan suara anda bergetar, itu adalah pertanda Akhi tengah memasuki babak baru dalam kehidupan. Dahulu Akhi bebas, yang boleh pergi sesuka hati, Tetapi sejak hari ini, bila Akhi pulang hingga larut malam, di rumah ada seorang wanita yang tidak bisa tidur karena mencemaskan Akhi. Kini bila Akhi tidak pulang berhari-hari tanpa berita, di kamar ada seorang wanita lembut yang akan membasahi bantalnya dengan linangan air mata. Dahulu, bila Akhi mendapat musibah, Akhi hanya akan mendapatkan ucapan “turut prihatin” dari sahabat-sahabat Akhi. Tetapi kini, seorang istri akan bersedia mengorbankan apa saja agar Akhi meraih kembali kebahagiaan anda. Akhi sekarang memperoleh kekasih yang diciptakan Allah SWT untuk berbagi suka dan duka bersama Akhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda yang artinya :&lt;br /&gt;“Ada dua doa yang akan didahulukah Allah siksanya di dunia ini yaitu Al-baghyu dan durhaka kepada orang tua”. (HR Turmudzi, Bukhari, dan Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-baghyu adalah berbuat sewenang-wenang, aniaya, dan zalim kepada orang lain. Dan Al-baghyu yang paling dimurkai Allah adalah berbuat zalim terhadap istri. Yang termasuk Al-baghyu adalah menelantarkan istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikan dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya dalam memperoleh kebahagiaan hidup bersama. Karena itulah Rasulullah SAW mengukur tinggi rendahnya martabat seorang laki-laki dari cara bergaul dengan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda yang artinya :&lt;br /&gt;“Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah adalah manusia paling mulia. Dan Aisyah bercerita bagaimana beliau memuliakannya :&lt;br /&gt;“Di rumah”, kata Aisyah, “Rasulullah melayani keperluan istrinya (seperti) memasak, menyapu lantai, memerah susu, dan membersihkan pakaian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah memanggil istrinya dengan gelaran yang baik. Setelah Rasulullah SAW wafat, ada beberapa orang menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan perilaku Nabi SAW. Aisyah sesaat tidak menjawab permintaan itu. Air matanya berderai. Kemudian dengan nafas panjang ia berkata, “kana kullu amrihi ajaba”. (Ah… semua perilakunya indah). Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul yang paling mempesona, Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Rasul yang mulia bangun ditengah malam dan meminta izin kepada Aisyah untuk sholat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Izinkan aku untuk menyembah Rabb-ku”, kata Rasulullah kepada Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan Akhi, untuk sholat malam saja Rasul meminta izin kepada istrinya. Disitulah terciptanya kemesraan, kesucian, kesetiaan, dan penghormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhi, kalau saya harus menyampaikan tausiyah (nasihat) kepada anda, saya hanya inging mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muliakanlah istri Akhi, sebagaimana Rasulullah memuliakan istri-istrinya, sehingga kelak bilamana Allah mentakdirkan Akhi meninggal lebih dahulu lalu kami menanyakan kepada istri Akhi tentang perilaku anda, ia akan mengatakan seperti Aisyah : “Ah… semua perilakunya indah, menakjubkan sekali…”. Subhanallah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu’alam bishowab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17390621-112832011094739884?l=asalim-ponder.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/feeds/112832011094739884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17390621&amp;postID=112832011094739884' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17390621/posts/default/112832011094739884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17390621/posts/default/112832011094739884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/2005/10/sebuah-renungan-untuk-saudaraku_02.html' title='Sebuah renungan untuk saudaraku muslimin...'/><author><name>Armansyah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17390621.post-112831959667984022</id><published>2005-10-02T23:03:00.000-07:00</published><updated>2005-10-02T23:36:24.603-07:00</updated><title type='text'>Sepucuk surat dari seorang ayah</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1144/1659/1600/Ammar111.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1144/1659/200/Ammar11.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 3 Oktober 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kahlil Gibran - On Children&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your children are not your children.&lt;br /&gt;They are the sons and daughters of Life's longing for itself.&lt;br /&gt;They come through you but not from you,&lt;br /&gt;And though they are with you yet they belong not to you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You may give them your love but not your thoughts, &lt;br /&gt;For they have their own thoughts.&lt;br /&gt;You may house their bodies but not their souls,&lt;br /&gt;For their souls dwell in the house of tomorrow, &lt;br /&gt;which you cannot visit, not even in you dreams.&lt;br /&gt;You may strive to be like them, &lt;br /&gt;but seek not to make them like you.&lt;br /&gt;For life goes not backward not tarries with yesterday.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Some parts of this poem is deleted #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku sayang, aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang ayah kepada anaknya yang sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu disisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau sudah makin beranjak dewasa, timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau.  Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh-penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.&lt;br /&gt;Sejak saat itu, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena-Nya, bukan karena aku dan ibumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi&lt;br /&gt;dan dicintai Tuhan. Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai &lt;br /&gt;dengan keinginan Tuhan, agar perjalananmu mendekati-Nya tak lagi terlalu sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kita pun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti.  Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1144/1659/1600/Ammar-Ayah4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1144/1659/200/Ammar-Ayah4.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya anakku, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari-Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku didunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan.  Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17390621-112831959667984022?l=asalim-ponder.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/feeds/112831959667984022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17390621&amp;postID=112831959667984022' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17390621/posts/default/112831959667984022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17390621/posts/default/112831959667984022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/2005/10/sepucuk-surat-dari-seorang-ayah.html' title='Sepucuk surat dari seorang ayah'/><author><name>Armansyah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17390621.post-112831519051589515</id><published>2005-10-02T21:52:00.000-07:00</published><updated>2005-10-04T19:44:06.470-07:00</updated><title type='text'>Sebuah renungan tentang hidup dan tujuannya...</title><content type='html'>Hidup dan kehidupan...&lt;br /&gt;2 kata yang sederhana, sangat sering kita dengar..., namun dibaliknya tersimpan rahasia-rahasia yang tidak kita ketahui. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia adalah hanya menjalaninya, untuk kemudian pada akhirnya sampai pada suatu titik akhir yang pasti terjadi, entah itu yang sifatnya kematian atau bahkan yang lebih besar dari itu... The Doomsday !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak buku-buku yang mencoba menguraikan mengenai kehidupan atau bagian-bagian dari kehidupan itu sendiri, beberapa diantaranya bahkan menjadi buku-buku "Best Seller". Saking banyaknya buku seperti itu, kadang kita sendiri jadi bingung untuk mencernanya. Berbahagialah orang-orang Islam karena petunjuk yang jelas dan benar tentang hidup dan bagaimana menjalaninya sudah dituliskan dalam kitab suci - Al Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita tidak bingung dalam mencari tujuan hidup, Allah SWT secara jelas telah menuliskannya dalam Al-Quran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DAN CARILAH PADA APA YANG TELAH DIANUGERAHKAN ALLAH KEPADAMU ( KEBAHAGIAAN ) NEGERI AKHIRAT, DAN JANGANLAH KAMU MELUPAKAN BAGIANMU DARI ( KENIKMATAN ) DUNIAWI... (28:77)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat tersebut secara jelas dituliskan bahwa tujuan hidup manusia adalah dalam rangka mencari kebahagiaan hidup di akhirat. Prinsip di atas sering dipahami sebagai konsep "Starting with the end"... fokus pada tujuan akhir. Suatu konsep yang seharusnya dianut dan dipahami oleh orang-orang yang berakal dan menggunakan akalnya. Pertanyaan selanjutnya... "Bagaimana cara mencapainya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercapai atau tidaknya suatu tujuan akan sangat bergantung pada bagaimana kita menjalani proses-nya atau secara sederhana dapat dinyatakan sebagai 'bagaimana kita menjalani kehidupan itu sendiri'. Itu berarti berhasil atau tidaknya kita mencapai tujuan tersebut akan ditentukan oleh tindakan dan perbuatan kita dalam menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lagi... "Apa yang menentukan tindakan dan perbuatan manusia ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita menjawab bahwa otak adalah penentu tindakan dan perbuatan kita, maka mohon maaf jawaban tersebut ternyata SALAH. Kalau kita analogikan dengan komputer, otak hanyalah berfungsi sebagai CPU. Sebagaimana kita pahami, CPU hanya melakukan pemrosesan atau perhitungan-perhitungan yang ditugaskan kepadanya... CPU tidak menentukan output yang ingin dihasilkan. Penentu dari output itu sendiri adalah user-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita setuju dengan hal di atas, berarti apa sebenarnya komponen yang menjadi penentu tindakan atau perbuatan manusia ? Teman, sesungguhnya HATI-lah yang menentukan tindakan dan perbuatan yang kita ambil. Pada saat manusia dihadapkan pada suatu pilihan atau kondisi tertentu, reaksi atau keputusan yang dihasilkan sebenarnya merupakan produk dari HATI. Output dari HATI yang berupa keputusan atau tindakan yang akan diambil dikirimkan ke OTAK untuk diproses. Setelah itu barulah diri kita bereaksi sesuai hasil yang telah diproses oleh OTAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih meyakinkan kita tentang (mungkin) hipotesa di atas, ada sebuah hadits yang bisa kita jadikan sebagai referensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati." (Muttafaqun `Alaihi)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terakhir..."Apa yang dapat menjadikan HATI menghasilkan output yang baik ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Output dari HATI ditentukan oleh input yang masuk kedalamnya. Salah satu input penting yang sangat dibutuhkan HATI adalah Ilmu, dalam hal ini ilmu agama. Mempelajari ilmu agama adalah hal mutlak yang harus dilakukan oleh setiap insan, tanpa hal itu maka arah kehidupan kita tidak akan sampai pada tujuan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya ia akan dipahamkan (ilmu) dalam urusan agamanya.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan dalam Al-Qur'an Allah SWT memberikan peringatan yang lebih keras lagi :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (7:179)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi meyakini bahwa : "Terkait dengan fitrah manusia sebagai mahluk hidup yang menjalani kehidupan ini, setinggi apapun ilmu pengetahuan yang ia dimiliki maka pada akhirnya ilmu yang terpenting adalah ilmu tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan, dan ilmu tentang hal tersebut sumber yang terbaik adalah ilmu agama - dalam hal ini Al-Quran dan Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, rasanya kita semua paham bahwa ilmu tanpa amal akan sia-sia. Karena itu teman, berbuatlah... Amalkan ilmu, kemampuan, tenaga, dan harta yang kita miliki untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya. Sadarilah, bahwa semakin banyak nikmat dan karunia yang diberikan oleh kepada kita maka dibaliknya tersimpan tanggung jawab dan konsekuensi yang harus kita jalankan. Pada saat kita peduli dengan tanggung jawab dan konsekuensi tersebut, itu berarti kita mensyukurinya. Namun sebaliknya, jika kita tidak peduli dengan tanggung jawab dan konsekuensi tersebut rasanya kita perlu memperhatikan firman Allah SWT :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;JIKALAU SEKIRANYA PENDUDUK NEGERI - NEGERI BERIMAN DAN BERTAKWA, PASTILAH KAMI AKAN MELIMPAHKAN KEPADA MEREKA BERKAH DARI LANGIT DAN BUMI, TETAPI MEREKA MENDUSTAKAN (AYAT - AYAT KAMI) ITU, MAKA KAMI SIKSA MEREKA DISEBABKAN PERBUATANNYA. (7:96) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT membimbing kita semua dalam mencapai tujuan hidup yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Wallahu 'alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17390621-112831519051589515?l=asalim-ponder.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/feeds/112831519051589515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17390621&amp;postID=112831519051589515' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17390621/posts/default/112831519051589515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17390621/posts/default/112831519051589515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asalim-ponder.blogspot.com/2005/10/sebuah-renungan-tentang-hidup-dan.html' title='Sebuah renungan tentang hidup dan tujuannya...'/><author><name>Armansyah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
